Senin, 13 Juni 2011

frizca rizky - ASKEP ANAK DENGAN SYNDROM NEFROTIK

ASKEP ANAK DENGAN SYNDROM NEFROTIK

NEFROTIK SYNDROM
Adanya injuri pada glomerular biasanya diikuti adanya :
 Proteinuria
 Hypoalbuminemia
 Hyperlipemia
 Edema
 Peningkatan permiabilitas glomerular terhadap protein plasma  kehilangan
Proteinuria >>

JENIS NEFROTIK SYNDROM :
1. NS Primer
 Terbatas pada injuri glomerular
2. NS Sekunder
 Berkembang sebagian bagian dari sakit sistematik

Ad . NS Primer :
 Minimal Change NS ( MCNS )
 >> pada anak usia prasekolah
 Penyebabnya tidak jelas
 Neprosis idiopatik, minimal lesion neprosis, lipoid neprosis / uncom plicated nefrosis
 Sakit yang tidak spesifik : infeksi virus saluran pernafasan  mendahului adanya manifestasi : 4 - 8 hari

Ad. NS Sekunder
 Terjadi setelah berkumpulnya kerusakan – kerusakan pada glomerulus
 Penyebab tersering dari kerusakan glomerulonefritis
 Biasanya sekunder pada penyakit vascular ( seperti : Dic dan anaphy lactoid purpura atau keracunan obat : trimethadione, sengatan atau bisa ular
 Memberi gejala utama  penyakit ginjal pada anak dengan AIDS

CONGENITAL NEFROTIK SYNDROM :
 Gen yang resesif pada autosom
 Biasanya terjadi pada bayi yang kecil umur gestasinya
 Proteinuria dan edema  manifestasi awal
 Type ini tidak berespon terhadap terapi yang biasa dilakukan
 Kematian dapat cepat bila bayi menolak adanya dialysis atau transplantasi ginjal

Kerusakan glomerulus pada ginjal



Proteinuria
( massive )


Hipoproteinemia Peningkatan sintesis protein
& lemak pada hati


Hypovolemia penurunan tekanan onkotik Hyperlipidemia



Penurunan aliran darah keginjal Peningkatan sekresi ADH dan aldosteron



Pelepasan renin Reabsorpsi Na dan air Edema



Vasokontriksi Peningkatan tekanan hydrostatik


MANIFESTASI KLINIS
 Berat badan meningkat
 Pembengkakan pada wajah, terutama disekitar mata
 Edema anasarka
 Pembengkakan pada labia / skotum
 Asites
 Diare, nafsu makan menurun, absorbsi usus menurun  edema pada mukosa usus
 Volume urine menurun, kadang – kadang berwarna pekat dan berbusa
 Kulit pucat
 Anak menjadi iritabel, mudah lelah / letargi
 Celulitis, pneumonia, peritonitis atau adanya sepsis
 Azotemia
 TD biasanya normal / naik sedikit


EVALUASI DIAGNOSTIK :
 Diagnosis ditegakan berdasarkan riwayat penyakit dan manifestasi klinis
 Konsentrasi total serum protein menurun : albumin menurun ( 2 g/dl) plasma lipid meningkat
 Serum kolesterol naik 450 –1500 mg / dl
 Hb dan Ht biasanya normal atau meningkat
 Jumlah platelet meninggi (500.000 – 1.000.000)  hemokonsentrasi
 Konsentrasi serum sodium menurun  130 – 135 Meq / L
 Biopsi Renal :
- Memberikan informasi tentang status glomerulus dan type dari NS, serta respon
dari obat.

MANAGEMENT TERAPEUTIK
 Mengurangi eksresi protein dalam urine dan mempertahankan urine terbatas dari protein
 Mencegah infeksi akut
 Mengontrol edem
 Meningkatkan nutrisi
 Mengembalikan penyesuaian dari gangguan proses metabolik

TINDAKAN UMUM :
 Prisipnya supportive
 Anak dipertahankan dalam keadaan bed rest namun aktivitasnya tidak dibatasi pada fase remesi
 Infeksi akut  dengan pemberian antibiotik yang sesuai
 Memberikan diet yang sesuai  membatasi garam
 Intake tinggi proteindikurangi  gagal ginjal & azotemia
 Terapi kortikosteroid :
 Dimulai dini pada saat anak didiognosis NS
 Pemberian secara oral dalam dosis 2 mg/kg BB  = 10 hari – 2 mgg sampai urine bebas dari protein
 Perhatikan Es yang terjadi seperti Growth Retardation, katarak, obesitas, hypertensi, perdarahan GI, infeksi
 Terapi imunosupresant
 Memungkinkan mengurangi relaps dan memberikan tahap remisi dalam jangka
waktu yang lama
 Misal pemberian cyclophos phamide yg digabung dengan prednison  2-3 bl
 Pemberian diuretic
 Furosemid yang dikombinasi dengan metolazone
 Plasma expander seperti “ salt poor human albumin “

PROGNOSIS :
 Tergantung pada respon anak pada terapi steroid
 Kerusakkan dapat diminimalkan bila deteksi dini dan tindakan yang cepat dan terapi untuk menghilangkan proteinuria
 80 % anak mempunyai pronosis yang baik

NURSING CONSIDERATION :
PENGKAJIAN :
 Mengkaji adanya retensi cairan dan ekskresinya
 Mengkaji intake & autput
 Mengkaji integritas kulit
 Melakukan pengukuran lingkar abdomen dan menimbang BB
 Mengkaji adanya edem
 Memonitor tanda-tanda vital

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
1. Gangguan volume cairan : lebih dari kebutuhan tubuh b.d akumulasi cairan pada jaringan tubuh
Tujuan : 1. Gejala akumulasi cairan tidak terjadi
K. hasil : Tidak ada edem
- Intervensi -
1. Mengkaji, mencatat, intake, dan output
2. Menimbang BB
R/ : Untuk mengkaji adanya retensi

3. Mengkaji perubahan pada edem :
 Mengukur lingkar abdomen
R/ Untuk mengkaji adanya asitis
 Memonitor edem disekitar mata dan daerah yang udem
 Catat adanya pitting jika ada
 Catat warna dan texture dari kulit
4. Tes Bj urine, dan albumin
R/ Hyperalbuminuria adalah manifestasi pada NS
5. Tampung urine untuk keperluan laboratorium
6. Kolaborasi pemberian kortikosteroid sesuai kebutuhan
R/ Untuk mengurangi eksresi protein dalam urine
7. Kolaborasi pemberian diuretic jika diindikasikan
R/ Untuk mengurangi udem
8. Membatasi cairan

Tujuan : 2 Anak akan menerima cairan yang sesuai
K. Hasil : Tidak menunjukan gejala kelebihan cairan
- Intervensi -
1. Berikan cairan dengan hati-hati
R/ Agar anak tidak menerima cairan berlebihan
2. Monitor infus intravena
R/ Mempertahankan intake
3. Gunakan strategi untuk mencegah kelebihan intake
 Gunakan botol kecil untuk intake cairan
R/ Volume cairan  melebihi batas
 Semprot mulut dengan pendingin
R/ Mencegah feeling anak terhadap kekeringan
 Berikan permen karet dan permen manis
4. Pertahankan bibir basah dengan memberikan minyak / madu
R/ Memberikan kenyamanan dan mencegah bibir pecah - pecah

2. Risti defisit volume cairan (intravaskular) b.d kehilangan cairan, protein & edema
Tujuan : Akan menunjukan tidak adanya kejadian kehilangan cairan intravaskular atau syok hipovolemik
KH : Tanda – tanda syok hipovolemik tidak ada
- Intervensi -
1. Monitor tanda-tanda vital
R/ Untuk mendeteksi tanda-tanda fisik dari penurunan cairan
2. Mengkaji frekuensi dan kualitas nadi
R/ Untuk mengetahui tanda syok hipovolemik
3. Mengukur tekanan darah
R/ Untuk mendeteksi syok hipovolemik
4. Laporkan kejadian-kejadian yang tidak normal
R/ Mempercepat tindakan perawatan
5. Kolaborasi pemberian salt – poor albumin
R/ Sebagai plasma expander

3. Risti infeksi b.d pertahanan tubuh yang menurun, cairan overload
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
K. Hasil : - Tanda-tanda infeksi tidak ada
- Anak dan keluarga akan menggunakan kegiatan - kegiatan yang me -
ningkatkan kesehatan
- Intervensi -
1. Lindungi anak dari orang yang terkena infeksi
R/ Untuk meminimalkan masuknya organisme
2. – Tempatkan anak diruangan non infeksi
- Batasi kontak langsung dengan orang yang menderita infeksi
- Ajarkan pengujung untuk mencegah infeksi seperti : cuci tangan
3. Gunakan tehnik aseptic pada setiap tindakan
4. Lakukan cuci tangan yang baik
5. Pertahankan anak dalam keadaan hangat dan kering
R/ Anak mudah terserang ISPA
6. Monitor temperatur
R/ Deteksi awal dari infeksi
7. Ajarkan orang tua mengenai tanda dan gejala infeksi

EVALUASI
Keefektifannya ditentukan oleh pengkajian ulang yang terus menerus dan evaluasi dari perawatan yang telah dilakukan dan kriteria hasilnya
 Monitor tanda vital dan kaji kulit dari infeksi
 Mengukur intake dan output dan memeriksa urin  albumin
 Mengkaji nafsu makan
 Mengobservasi dan berdiskusi dengan anak & keluarga tentang pengertian mereka mengenai penyakitnya, terapi, dan tindakan – tindakan medis lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar